IACI: DARI AKUISISI SAINS KONTEMPORER MENUJU GERAKAN BUDAYA

Dari BudayaIndonesia

Langsung ke: navigasi, cari

Saat itu bulan September 2007. Sejumlah peneliti di Bandung Fe Institute, di bawah supervisi Prof. Yohanes Surya, tengah berkutat merumuskan sebuah buku, yang kemudian diberi judul “Solusi Untuk Indonesia”. Karya ini merupakan sebuah bentuk akuisisi sains kontemporer dalam upaya mencari alternatif solusi atas permasalahan yang tengah dihadapi bangsa Indonesia. Sekarang, buku yang membawa wawasan baru tersebut sudah dapat diperoleh seluruh toko buku di Indonesia. Namun tentu saja, kesadaran baru tanpa disertai tindakan nyata tidak akan mengubah nasib bangsa Indonesia. Artikel ini membahas bentuk implementasi praksis dari pemikiran yang ada di buku “Solusi Untuk Indonesia”, khususnya di bidang budaya.

Selain upaya untuk melepaskan diri dari Indonesia (disintegrasi fisik), ada sebuah bentuk disintegrasi lain yang juga mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ia adalah perilaku warga Negara yang sama sekali tidak berhasrat untuk memisahkan diri dari Indonesia, bahkan mengakui kemerdekaan NKRI beserta konsekuensinya, tapi di dalam benak dan tindakannya ia berperilaku tidak merdeka. Fenomena ini disebut disintegrasi laten. Ada berbagai contoh disintegrasi laten misalnya sifat main hakim sendiri, korupsi, mentalitas inlander, ketidakpercayaan pada ahli dari dalam negeri, apresiasi berlebihan tanpa disertai uji kelayakan yang ketat kepada lulusan dari luar negeri dan sifat pengeksklusifan suatu ras, agama, atau kelompok dengan yang lain.

Begitu halusnya pola disintegrasi ini sampai kita dibuat tidak sadar bahwa, sebenarnya, kita sedang menggerogoti keutuhan negara tempat kita tinggal. Hal ini terjadi karena kita tidak memiliki sebuah cara pandang baru, yang sesuai konteks yang ada saat ini, tentang keindonesiaan. Untuk itu, kita memerlukan sebuah wawasan nusantara baru. Di sini, sains dan teknologi menjadi satu-satunya alternatif yang menjanjikan sebuah jawaban.

Pada waktu yang bersamaan dengan penulisan buku tersebut, terjadi demonstrasi besar-besaran. Para pemerhati budaya memprotes klaim Negara tetangga terhadap Lagu Rasa Sayang Sayange, Tari Reog Ponogoro dan beberapa motif batik. Hubungan dua Negara serumpun inipun merenggang. Bendera Malaysia dibakar. Produk Malaysia diboikot. Pom bensin Petronas menjadi sunyi senyap.

Klaim Negara lain atas kekayaan budaya Indonesia adalah sebuah cerita lama yang terjadi berulang-ulang. Sebelumnya, kita telah menderita akibat klaim atas Tempe, Sambal Balado, Kopi Aceh, Kopi Toraja, Angklung, Kerajinan Perak Bali, Naskah Kuno dari Riau dan lain sebagainya. Entah mengapa, kita menjadi seperti "keledai", jatuh ke lubang yang sama. Mengapa kita begitu lalai dan ceroboh? Mungkin benar bahwa Malaysia salah karena telah mengklaim budaya Indonesia. Tetapi bukankah kita sendiri juga salah karena telah lalai menjaga warisan budaya yang kita miliki? Untuk itu ke depan, kita harus bangkit dan bergerak maju bersama. Agar kejadian-kejadian tersebut tidak terulang lagi, kita harus melindungi artefak budaya Indonesia secara hukum.

Ketika buku “Solusi Untuk Indonesia” memasuki tahap percetakan, sekitar awal tahun 2008, di belahan dunia yang lain muncul sebuah peristiwa mengejutkan. Adidas meluncurkan produk jaket, topi dan sepatu yang bermotifkan batik Jawa pedalaman dalam program Adidas Materials Of The World Project. Sebuah fenomena yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Batik yang tadinya kita anggap kuno berubah menjadi sebuah produk baru yang trendi, moderen dan memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi. Mengapa hal ini dapat terjadi? Apa yang sebenarnya terjadi dalam ekonomi global sekarang ini?

Fenomena ini dijelaskan oleh Hokky Situngkir, peneliti Bandung Fe Institute, dalam makalah ilmiahnya yang berjudul “Evolutionary Economics Celebrates Innovation and Creativity Based Economy”. Sistem ekonomi berevolusi. Pada periode sebelumnya, superioritas penguasaan teknologi menjadi faktor kunci. Tadinya, akusisi teknologi tinggi hanya dikuasai oleh Negara-negara maju atau G-7. Namun perlahan-lahan, ia menyebar ke Negara-negara lain. Korea Selatan, Cina, Taiwan, India, Malaysia, Indonesia, serta Negara-negara di kawasan Skandinavia, Eropa Timur dan Amerika Latin telah mampu mengakuisisi sejumlah bentuk teknologi tinggi. Akibatnya, harga produk teknologi mengalami penurunan. Handphone, komputer, laptop, iPod, serta akses internet perlahan-lahan mulai dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Akibatnya, titik berat tantangan ekonomi global ke depan tidak lagi pada upaya akuisisi teknologi semata tetapi lebih kepada upaya mencari bentuk kreatif atas content atau muatan dari produk teknologi tersebut. Perlahan-lahan terjadinya pergeseran dari “ekonomi berbasis teknologi” menjadi “ekonomi berbasis kreativitas”. Artefak-artefak budaya tradisional, yang pada awalnya dianggap tidak berharga menjadi bernilai ekonomi tinggi.

Tren ini memberikan sebuah kesempatan baru bagi Indonesia, sebagai sebuah Negara yang memiliki tingkat keberagaman yang sangat tinggi. Namun tentu saja untuk dapat memenangkan persaingan, kita tidak boleh semata-mata bersandar pada produk tradisional budaya Indonesia. Kita harus mendorong inovasi ekonomi berbasis kekayaan budaya. Inovasi batik yang dilakukan oleh Adidas adalah salah satu contoh inovasi ekonomi berbasis kekayaan budaya.

Perkumpulan Inisiatif Budaya Kepulauan Indonesia atau dalam bahasa Inggris disebut "Indonesian Archipelago Culture Initiatives", disingkat IACI, memiliki visi sebagai pusat ketahanan budaya Indonesia. Tiga tantangan yang telah kita bahas di atas (wawasan nusantara baru yang berbasis sains dan teknologi, melindungi artefak budaya Indonesia secara hukum dan mendorong inovasi ekonomi berbasis kekayaan budaya) adalah latar belakang dan misi dari IACI.

Tiga misi tersebut ini hanya dapat dicapai jika kita memiliki basis pengetahuan dan data yang baik. Untuk itulah, lembaga yang dideklarasikan di Bandung pada tanggal 29 Desember 2007 menjadikan Perpustakaan Digital Budaya Indonesia atau PDBI (situs www.budaya-indonesia.org) sebagai tulang punggung kegiatannya. Indonesia merupakan negara yang sangat luas dan memiliki kekayaan artefak budaya yang sangat tinggi. Untuk itu, IACI menggunakan sistem pendataan dengan menggunakan teknologi web partisipatif seperti yang digunakan oleh situs eksiklopedia WIKIPEDIA. Dalam sistem ini, publik dimungkinkan untuk memasukkan atau memperbaiki data yang sudah ada.

Tingkat keberhasilan PDBI sangat dipengaruhi oleh tingkat partisipasi dari seluruh elemen bangsa. Dalam kesempatan ini kami mengajak kepada seluruh rekan-rekan sebangsa dan setanah air untuk mendukung proses pendataan kekayaan budaya Indonesia. Jika temen-temen memiliki koleksi gambar, lagu atau video tentang budaya Indonesia, mohon didaftarkan ke situs www.budaya-indonesia.org. Jangan sampai kisah Tari Reog Ponorogo dan Lagu Rasa Sayang Sayange terulang kembali.

Selain melakukan pendataan, IACI juga melakukan penelitian, melaksanakan proyek memetika Indonesia, ekspedisi, majalah, pelatihan, serta memperjuangkan Undang-undang perlindungan budaya.

Kelestarian budaya adalah kepentingan tanggung jawab kita bersama. Selain mendaftarkan data artefak budaya Indonesia, ada beberapa bentuk kontribusi lain yang dapat kita lakukan. Misalnya dengan melakukan kampanye secara online melalui email, milis, blog atau situs yang Anda miliki. Hal lain yang juga dapat kita lakukan adalah dengan memberikan batuan ide, tenaga maupun donasi yang dapat membantu kegiatan IACI. Untuk informasi lebih jauh, Anda dapat menghubungi IACI di email: office@budaya-indonesia.org

Jangan tanyakan apa yang telah Negara berikan kepadamu, tetapi tanyakanlah apa yang dapat kamu lakukan untuk negaramu. Untuk itu, mari bersama-sama kita menjadi bagian dari perlindungan budaya Indonesia.

Oleh: Rolan Mauludy Dahlan
Ketua Jaringan Budaya, Perkumpulan Inisiatif Budaya Kepulauan Indonesia
Peneliti Departemen Ekonomi Evolusioner, Bandung Fe Institute

Tulisan dibuat untuk situs http://www.erabaru.or.id/

Peralatan pribadi