KERONCONG MENGGUGAT DI INDONESIA MENGGUGAT
Dari BudayaIndonesia
Sosok wanita berbusana merah itu tampak begitu berseri-seri. Tetapi, senyumannya sedikit menimbulkan tanda tanya. Ia seolah-olah melepaskan sebuah emosi yang sulit dimengerti. Malam itu terasa lebih panjang. Wanita setengah baya itu adalah Retno S. Purwanto, pimpinan “Keroncong Asli Merah Putih”. Malam itu adalah puncak Pagelaran Repoeblik Kerontjong Indonesia. Acara ini diselenggarakan dalam rangka memperingati 10 tahun “Keroncong Asli Merah Putih” yang digelar tanggal 27-30 Agustus 2008, di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung. Sebuah gedung bersejarah yang mewarnai perjalanan Republik Indonesia. 78 tahun yang lalu di tempat ini, Soekarno membacakan pleidoinya yang berjudul “Indonesia Menggugat” di hadapan hakim-hakim Belanda.
Apakah Bu Retno tersenyum karena telah berhasil menyelenggarakan ulang tahun “Keroncong Asli Merah Putih” yang kesepuluh? Atau mungkin ia tersenyum bahagia karena telah menyampaikan sebuah gugatan, seperti senyuman Soekarno seusai membacakan pleidoinya 78 tahun yang lalu? Pertanyaan yang sulit untuk saya jawab malam itu. Mungkin ada baiknya jika kita menilik kembali kisah di balik lahirnya musik keroncong.
Pendapat umum yang berkembang di masyarakat menyebutkan bahwa keroncong memiliki hubungan historis dengan nenek moyang musik fado, sebuah genre musik yang berasal dari Portugis. Ada rumor yang menyebutkan bahwa musik ini bermula dari sebuah lagu Portugis di abad 16 yang berjudul Moritzku. Namun menurut Suka Hardjana, budayawan dan mantan Sekretaris Dewan Kesenian Jakarta, “hikayat ini sulit untuk dibuktikan karena musik keroncong sendiri baru berkembang pada abad ke-20”.
Tetapi tentu saja sulit bagi kita untuk secara mutlak mengabaikan pengaruh Portugis di musik keroncong. “Kemungkinan besar bangsa Portugis-lah yang mengenalkan konsep diatonis (seperti yang digunakan pada musik keroncong) di Indonesia” tutur Lilik Tri Cahyono, seorang intelektual musik. Tetapi apakah hal ini berarti bahwa musik keroncong yang indah berasal dari Portugis?
Lilik memiliki sejumlah argumen yang menolak klaim tersebut. Pertama, Portugis tidak meninggalkan musik sejenis keroncong di bangsa lain, selain Indonesia tentunya. Kedua, tidak ada kelompok musisi Portugis yang memainkan alat musik atau bahkan memiliki irama yang mirip dengan musik keroncong di Indonesia. Ketiga, tidak ada musisi Portugis (yang tidak pernah belajar musik di Indonesia) yang mampu memainkan irama keroncong.
Elaborasi lebih jauh yang dilakukan oleh Lilik menyimpulkan bahwa musik keroncong memiliki sejumlah pakem-pakem atau batasan-batasan yang tidak dapat dilanggar. Aturan ini sering dijumpai pada lagu-lagu tradisional yang ada di Jawa. Tradisi ini jarang kita jumpai di musik barat.
Jadi apakah musik keroncong berasal dari Indonesia atau berasal dari Portugis? Dua pilihan tersebut mungkin terlalu ekstrem untuk dipilih. Jawaban yang paling moderat yang dapat diambil adalah “melihat keroncong sebagai sebuah bentuk adaptasi dari berbagai elemen budaya yang melahirkan sebuah musik baru yang bersifat sinkretik”, sebagaimana diungkapkan oleh Suka Hardjana. Sumber inspirasi musik keroncong berasal dari berbagai tradisi budaya, baik dalam maupun luar negeri. Perpaduan ini kemudian melahirkan sebuah tradisi musik baru yang tumbuh dan berkembang secara unik di Indonesia. Keroncong adalah budaya Indonesia.
Roda kehidupan berputar. Semuanya berubah, termaksud selera manusia. Antusiasme publik terhadap musik keroncong menjadi semakin berkurang. Produk industri budaya baru muncul silih berganti. "Mereka (penyanyi keroncong) kebanyakan bingung, pada akhirnya mau kemana karena minimnya produk industri dari keroncong," tutur Bu Retno. Apakah pernyataan ini berarti beliau merindukan kebangkitan kembali musik keroncong? “Saya seorang ibu, saya tidak memaksa atau menggurui yang muda untuk mencintai keroncong. Istilahya ketika seorang anak ingin mengenakan sepatu. Ketika sepatu itu tidak pas, ya jangan dipakai" ujar Ibu Retno mengistilahkan. Pernyataan ini jelas menunjukkan bahwa acara itu bukanlah semuah nostalgia keroncong semata. Lalu pesan apa yang coba untuk ia sampaikan di balik acara itu?
"Di dalam keroncong, ada begitu banyak aspek yang bisa kita dapatkan, seperti aspek sejarah, budaya, maupun sosial, yang merupakan representasi dari perkembangan bangsa Indonesia sendiri," ungkap Bambang Subarnas, ketua pelaksana Repoeblik Kerontjong. Pesan ini sepertinya berkaitan erat dengan kebijaksanaan yang tersimpan di balik sejarah lahirnya musik keroncong. Kebijaksanaan yang memberikan sebuah wawasan baru dalam melihat budaya. Sebuah wawasan mengajarkan kita untuk terus mencari bentuk-bentuk harmoni baru antara kebudayaan asing dan kebudayaan tradisional Indonesia. Simponi ini kemudian harus kita tumbuh dan kembangkan di sini, tanah Indonesia.
Mari kita kembali kepertanyaan awal. Apa yang ada dibalik senyuman tersebut? Yang tahu pasti jawabanya mungkin hanya Bu Retno. Tetapi apakah Anda tidak tertarik untuk membuat sebuah tebakan? Cara pandang kita dalam melihat keroncong akan menentukan jawaban yang akan diberikan. Jika kita melihat keroncong sebagai hiburan semata, mungkin senyum tersebut hanya akan terlihat sebagai bentuk kepuasan atas berlangsungnya acara tersebut. Namun, jika kita memandang keroncong sebagai sebuah bentuk wawasan budaya, mungkin senyum tersebut dapat diartikan sebagai sebuah gugatan terhadap cara pandang kita akan budaya. Sebuah kebijaksanaan yang coba ia wariskan kepada generasi muda Indonesia.
Ada banyak kemungkinan. Tetapi entah mengapa, saya begitu yakin ini adalah sebuah gugatan. Ketika saya mewawancara beliau, ada sebuah kalimat yang membuat saya semakin yakin. Kalimat pertama yang ia keluarkan diakhir penutupan Pagelaran Repoeblik Kerontjong Indonesia. “Saya merasa telur yang awalnya bulat itu sekarang sudah pecah, menyebarkan harapan dan auranya, dilanjutkan oleh teman-teman lain”. (rmd)
