WAJAH MUDA DI TENGAH EVOLUSI KERONCONG

Dari BudayaIndonesia

Langsung ke: navigasi, cari

Pria muda itu begitu kesepian di tengah lautan. Kepalanya dihinggapi berbagai pertanyaan. Sosok berusia 21 tahun itu mengungkapkan perasaannya dengan melukiskan tinta di atas selembar kertas. Sebuah perjuangan di tengah dentuman ombak. Akhirnya, ia telah mengubah dunia. Sosok itu adalah Charles Robert Darwin di atas kapal Beagle. Pria kesepian inilah yang melahirkan teori evolusi. Sebuah teori yang mengubah cara pandang manusia terhadap alam. Evolusi membawa sebuah konsep yang sekarang kita kenal dengan “seleksi alam”. Semua spesies bertarung untuk menaklukannya. Kata kuncinya adalah reproduksi. Siapapun yang gagal untuk beregenerasi, ia akan punah.

Waktu berlalu. Sesudah perjalanan bersejarah itu, dunia telah berputar mengelilingi matahari sebanyak 178 kali. Semuanya berubah. Generasi ikan paus besi muncul menggantikan generasi kapal Beagle. Teori evolusipun keluar dari dunia binatang dan jagad tumbuhan. Ia menjalar ke dunia sosial.

Teori evolusi telah menjelaskan terjadinya kepunahan berbagai bahasa di Papua. Sejumlah bahasa punah, karena tidak ada lagi penuturnya. Sebuah bahasa akan punah jika ia gagal melahirkan generasi baru yang menggunakan bahasa tersebut. Siapapun yang gagal untuk beregenerasi, ia akan punah. Prinsip inipun juga berlaku di dunia musik. Sejumlah genre musik lenyap dari muka bumi karena gagal melahirkan generasi baru.

Aturan inilah yang sekarang menantang musik keroncong. Generasi Retno S. Purwanto ditantang oleh alam untuk menciptakan generasi musisi keroncong baru. Lalu, apa kabar dengan regenerasi musik keroncong? Salah satu sosok muda yang mewarnai musik keroncong adalah Pramesti Dewi Purwantini. Gadis cantik berusia 22 tahun ini adalah satu dari sedikit penyanyi keroncong muda di tanah air. “Musik keroncong tidak gampang dan sangat langka penyanyinya” tutur Pramesti, panggilan akrab dara yang saat ini kuliah di tingkat 4 jurusan seni musik Universitas Pendidikan Indonesia. Keroncong bukanlah musik yang sederhana. “Awalnya sulit sekali untuk bisa mencapai cengkok yang baik” kata Pramesti menambahkan. Namun baginya, tembok itu adalah sebuah tantangan yang harus mampu ia lompati. “Akhirnya saya bisa mendapatkan sentuhannnya” kata gadis yang sangat suka menyayi ini.

Evolusi musik tentu saja bukan hanya urusan regenerasi semata. Selain mengenal “seleksi alam”, teori evolusi juga mengenal konsep “mutasi”. Dalam ilmu biologi, ia dikenal sebagai perubahan sekuen nucleotide dari material genetik. Yang menjadi pertanyaan adalah “seperti apakah mutasi di musik”.

Jawaban pertanyaan itu mungkin menarik untuk dikaji dengan menggunakan studi memetika. Konsep ini diperkenalkan pertama kali oleh Richard Dawkins dalam bukunya yang sangat terkenal "The Selfish Gene". Ahli biologi berkebangsaan Inggris ini melihat bahwa budaya tersusun atas unit-unit yang dapat mereplikasi dirinya sendiri atau meme. Meme merupakan suatu unit informasi yang tersimpan di otak dan menjadi unit replikator dalam evolusi kultur manusia. Ia dapat berupa ide, gaya berpakaian, tata cara ibadah, norma dan aspek kultur lainnya.

Mutasi di musik adalah proses perubahan meme yang tersimpan dalam struktur yang menyusun lagu tersebut. Kata kuncinya adalah inovasi. Pesan inilah yang coba ditunjukkan oleh Hokky Situngkir dan Deni Khanafiah, peneliti Bandung Fe Institute, dalam presentasinya pada Joint Conference on Information Sciences ke-9 di Kaohsiung, Taiwan.

Pramesti Dewi Purwantini mungkin telah menyadari pentingnya inovasi di musik keroncong. “Kami telah berupaya mengaransemen lagu pop dengan musik keroncong” kata Pramesti dengan sorot mata penuh semangat. Sebuah upaya yang patut kita apresiasi. Selamat berjuang Pramesti. (rmd)